LOGIN MEMBER

Username:
Password :
         

PILIH BAHASA

Statistik

  Visitors : 7370 visitors
  Hits : 228 hits
  Today : 17 users
  Online : 6 users
:: Kontak Admin ::

tarman_060708    

Agenda

06 September 2010
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Berita

SAJAK MUTIA RASTA

Tanggal : 06/01/2010, 07:15:03, dibaca 96 kali.

 

 

Sajak-sajak Mutiah Ayu Rasta di Horison Kaki Langit edisi Mei 2010

 

 

Sebelum Samadi

 

 

/1/

Menggunakan arus yang tak pernah pecah, aku mengayuh

Segenap sampan sampai ke tepi hulu. Mungkin pohon

Kelapa berdaun rambutmu akan membuka kulitkulitnya

Sebagai pintu dan jalan keluar

 

Menuju kata dan tulisan abadi. Di kertas-kertas pernah ada

Pensil yang menulisi dirinya karena dulu tersimpan di almari

Dekat meja cokelatmu

 

Kacamata di atasnya. Mengarah ke sejarah dulu saat masih

Banyak bantal berkapuk din mimpi lapuk. Sekian banyak

Harapan dari mataku yang berbusa ketika menatap ke luar jendela

 

: kau selalu menjelma bayangan di balik tenggelamnya

Malam, padahal malam tak pernah sampai pada malam

Sebenarnya. Lalu kau menghilang di perut awan setelah

Burung pagi melintas di muka matahari

 

/2/

: karena waktu itu aku masih belum genap meninggalkan

Uraturat yang menggaris di tangan dan membentuk nasib

 

Lalu aku membolakbalik halamanhalaman bergambar

Bajumu dan saat ditemukan sebuah kantung, aku seperti

Mengingat tentang arus lalu bahwa tak pernah pecah

 

/3/

Ombak di rimba pulau belum merendah, mereka

Membangun kepalakepala air dari jala perahu yang kusut,

Daun kelapa yang kusut, dan bulumata yang kusut

 

Aku berniat mengembalikan lagi banyak halaman. Tentang

Ombak yang sudah dituntaskan, sedang kau masih dalam

Selubung paling misteri –wujudmu dalam bayangan atau

Bahkan menghilang

 

/4/

Senja akan tiba di atas genting yang meneduhkan meja

Cokelatmu. Saat kau bersiapsiap dalam samadi sebelumnya,

Untuk kali ini kau memakai kacamata : menguji ketebalan

Waktu katamu

 

 

 

Palembang, Desember 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Panggung atas Nama Lkon Dalang Wayang Penari Kipas

 

            : kepada ayah

 

Parodi pada malammalam pertama

Aku menyaksikanmu

Pementasan drama

Dengan lakonlakon

Dalang

Wayang

Penari kipas

Menunjukkan angin baru di kota

Tanpa isyarat antri yang

Senantiasa berdesakdesakan

 

Mereka yang masih dalam kurungan sebuah keraton

Sedang ini musti depentaskan sesegera

Sebelum orang melempar tomat

Dan teriak

”mainkan pementasan ini

Atau harus dibuka baju agar darah mengalir

Air mata tumbuh sebagai gerimis yang cuaca.”

 

Sebelumnya langit padam dan tergelincir

Warna merah masuk ke badanbadan

Sebuah aroma baru

Pada malammalam pertama yang penuh kecemasan

Udara kegelisahan

(kita akan baru menuntaskan

Segala kata pada rupa

Segala mimik pada wajah

Segala lakon di atas drama)

Panggung atas nama lakon dalang wayang penari kipas

 

Bangku dan panggung

Di antara yang menyaksikan dan disaksikan

Di antara yang mengasingkan dan diasingkan

Mendesir.

Mata pada telinga

Telinga pada dada

Melewati gelombanggelombang basah

Dan kepulan doa yang terakit aman

Sampai pada segala episode

Aku mengenalmu :

Pementasan malammalam pertama

 

 

 

Pantaimusi, 13 Desember 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wanita Lengan

 

: mama

 

Mengenang lumut di pinggulmu

Kursikursi patah

Embun dan pakaian di pagi hari

Aku mengenakannya sebagai wujudmu pada air

Pun pada kursikursi di ruangan berikutnya

Menyediakan waktu yang lebih lapang

Untuk menyimpan kenangan di taman kota

: musim berkejarkejaran

Cuaca seketika dalam kabut

”aku wanita lengang yang ingin menemuimu

Dengan sebungkus cokelat

Hampir leleh di tangan”

Matahari begitu panas

Kenangan kita menjerit

Mobilmobil dengan klakson

Adalah jasad yang terbakar tanpa ayah

 

 

 

Pantaimusi, Desember 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hujan adalah Sepasang Pengantin

 

: e.p.

 

Hujan adalah sepasang pengantin yang

Terburuburu memasang cincinnya masingmasing.

Melalui gaun dan batang tubuh yang geletar,

Mata mereka nanar sembari menatap kucing

Yang asik bersenggolan. Pada buntu itu

Mengalir deras denyut yang berpaut antara jarak

Yang dikejar melalui sebuah waktu dan jembatan

Yang bertembok tebal

 

”akulah saksi dari segala langkah yang kautuju

Ke pengantinmu!”

 

 

 

Pantaimusi, 7 Desember 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Edelweis

 

: ma

 

Karang 1

 

Suatu saat akan datang gurun berbatu

Dimana debu adalah satu

Meruntuh di setiap tebingan

Dan gunung siap menganakkan perutnya

Memulai musim baru

Sedang cuaca di sini masih abadi

Dengan salju di puncak paling tinggi

 

Karang 2

 

Lalu kau hidup serupa batang

Dengan daundaun yang siap mekar

Dan putik yang lagi menangkap suara pagi

: di mana tempat yang baru ini sesungguhnya

 

Karang 3

 

Burungburung yang menyangkar di sini

Berkomentar

: ada anak baru yang ingin terjun dan meluruh

Seperti batu yang dahulu.

 

Karang 4

 

Lalu kau merasa kesunyian yang amat lengkap

Dengan sisa gelinciran bulan yang ditata untuk

Matahari selanjutnya

Kesepian makin tergenapkan

 

Karang 5

 

(sebenarnya, kehadiranmu di bibir yang baru

Mengganti keganjilan dimana waktu tetaplah batu,

Sampai akhirnya meluruh)

 

 

 

Sekayu, 24 November 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suatu saat Aku Akan Meminangmu

 

: akasia

 

Senyummu kali ini mengingatkan tentang langit mendung di malam itu.

Para wanita melarang lelakinya duduk di bawah atap dan pagu

 

Akan ada saatnya aku akan datang meminangmu

Tanpa puncak alas yang banyak dilalui bujang

Dan seserahan sebagi isyarat yang sah. Aku dapat mengikat senyummu

 

Pagi ini aku ingin memakumu        

Agar suara angin tidak membawamu sebagai pengantin

Dan mengurung malam di kamarnya.

 

Aku bukanlah dara di gung yang lebat dengan sayap

 

Hanya kesenyapan yang senantiasa tercokol dan menjamur

Tubuhku meranum.

Dengansenyummu

Aku lagilagi merindukan mendung malam itu

 

 

 

2009

 

Mutiah Ayu Rasta, 

Peserta  Didik SMA Negeri 2 Sekayu  Kelas XI.IPA.1

Dimuat di Horison Kaki Langit edisi Mei 2010



Kembali ke Atas




Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : Eko Putra -  [eko.ktm@gmail.com]  Tanggal : 10/06/2010
tolong ulasannya Jamal D. Rahman-nya diposting juga.

Terima kasih.

   Kembali ke Atas