Berita
Tanggal : 06/01/2010, 07:15:03, dibaca 96 kali.
Sajak-sajak Mutiah Ayu Rasta di Horison Kaki Langit edisi Mei 2010 Sebelum Samadi /1/ Menggunakan arus yang tak pernah pecah, aku mengayuh Segenap sampan sampai ke tepi hulu. Mungkin pohon Kelapa berdaun rambutmu akan membuka kulitkulitnya Sebagai pintu dan jalan keluar Menuju kata dan tulisan abadi. Di kertas-kertas pernah ada Pensil yang menulisi dirinya karena dulu tersimpan di almari Dekat meja cokelatmu Kacamata di atasnya. Mengarah ke sejarah dulu saat masih Banyak bantal berkapuk din mimpi lapuk. Sekian banyak Harapan dari mataku yang berbusa ketika menatap ke luar jendela : kau selalu menjelma bayangan di balik tenggelamnya Malam, padahal malam tak pernah sampai pada malam Sebenarnya. Lalu kau menghilang di perut awan setelah Burung pagi melintas di muka matahari /2/ : karena waktu itu aku masih belum genap meninggalkan Uraturat yang menggaris di tangan dan membentuk nasib Lalu aku membolakbalik halamanhalaman bergambar Bajumu dan saat ditemukan sebuah kantung, aku seperti Mengingat tentang arus lalu bahwa tak pernah pecah /3/ Ombak di rimba pulau belum merendah, mereka Membangun kepalakepala air dari jala perahu yang kusut, Daun kelapa yang kusut, dan bulumata yang kusut Aku berniat mengembalikan lagi banyak halaman. Tentang Ombak yang sudah dituntaskan, sedang kau masih dalam Selubung paling misteri –wujudmu dalam bayangan atau Bahkan menghilang /4/ Senja akan tiba di atas genting yang meneduhkan meja Cokelatmu. Saat kau bersiapsiap dalam samadi sebelumnya, Untuk kali ini kau memakai kacamata : menguji ketebalan Waktu katamu Palembang, Desember 2009 Panggung atas Nama Lkon Dalang Wayang Penari Kipas : kepada ayah Parodi pada malammalam pertama Aku menyaksikanmu Pementasan drama Dengan lakonlakon Dalang Wayang Penari kipas Menunjukkan angin baru di kota Tanpa isyarat antri yang Senantiasa berdesakdesakan Mereka yang masih dalam kurungan sebuah keraton Sedang ini musti depentaskan sesegera Sebelum orang melempar tomat Dan teriak ”mainkan pementasan ini Atau harus dibuka baju agar darah mengalir Air mata tumbuh sebagai gerimis yang cuaca.” Sebelumnya langit padam dan tergelincir Warna merah masuk ke badanbadan Sebuah aroma baru Pada malammalam pertama yang penuh kecemasan Udara kegelisahan (kita akan baru menuntaskan Segala kata pada rupa Segala mimik pada wajah Segala lakon di atas drama) Panggung atas nama lakon dalang wayang penari kipas Bangku dan panggung Di antara yang menyaksikan dan disaksikan Di antara yang mengasingkan dan diasingkan Mendesir. Mata pada telinga Telinga pada dada Melewati gelombanggelombang basah Dan kepulan doa yang terakit aman Sampai pada segala episode Aku mengenalmu : Pementasan malammalam pertama Pantaimusi, 13 Desember 2009 Wanita Lengan : mama Mengenang lumut di pinggulmu Kursikursi patah Embun dan pakaian di pagi hari Aku mengenakannya sebagai wujudmu pada air Pun pada kursikursi di ruangan berikutnya Menyediakan waktu yang lebih lapang Untuk menyimpan kenangan di taman kota : musim berkejarkejaran Cuaca seketika dalam kabut ”aku wanita lengang yang ingin menemuimu Dengan sebungkus cokelat Hampir leleh di tangan” Matahari begitu panas Kenangan kita menjerit Mobilmobil dengan klakson Adalah jasad yang terbakar tanpa ayah Pantaimusi, Desember 2009 Hujan adalah Sepasang Pengantin : e.p. Hujan adalah sepasang pengantin yang Terburuburu memasang cincinnya masingmasing. Melalui gaun dan batang tubuh yang geletar, Mata mereka nanar sembari menatap kucing Yang asik bersenggolan. Pada buntu itu Mengalir deras denyut yang berpaut antara jarak Yang dikejar melalui sebuah waktu dan jembatan Yang bertembok tebal ”akulah saksi dari segala langkah yang kautuju Ke pengantinmu!” Pantaimusi, 7 Desember 2009 Edelweis : ma Karang 1 Suatu saat akan datang gurun berbatu Dimana debu adalah satu Meruntuh di setiap tebingan Dan gunung siap menganakkan perutnya Memulai musim baru Sedang cuaca di sini masih abadi Dengan salju di puncak paling tinggi Karang 2 Lalu kau hidup serupa batang Dengan daundaun yang siap mekar Dan putik yang lagi menangkap suara pagi : di mana tempat yang baru ini sesungguhnya Karang 3 Burungburung yang menyangkar di sini Berkomentar : ada anak baru yang ingin terjun dan meluruh Seperti batu yang dahulu. Karang 4 Lalu kau merasa kesunyian yang amat lengkap Dengan sisa gelinciran bulan yang ditata untuk Matahari selanjutnya Kesepian makin tergenapkan Karang 5 (sebenarnya, kehadiranmu di bibir yang baru Mengganti keganjilan dimana waktu tetaplah batu, Sampai akhirnya meluruh) Sekayu, 24 November 2009 Suatu saat Aku Akan Meminangmu : akasia Senyummu kali ini mengingatkan tentang langit mendung di malam itu. Para wanita melarang lelakinya duduk di bawah atap dan pagu Akan ada saatnya aku akan datang meminangmu Tanpa puncak alas yang banyak dilalui bujang Dan seserahan sebagi isyarat yang sah. Aku dapat mengikat senyummu Pagi ini aku ingin memakumu Agar suara angin tidak membawamu sebagai pengantin Dan mengurung malam di kamarnya. Aku bukanlah dara di gung yang lebat dengan sayap Hanya kesenyapan yang senantiasa tercokol dan menjamur Tubuhku meranum. Dengansenyummu Aku lagilagi merindukan mendung malam itu 2009
Mutiah Ayu Rasta, Peserta Didik SMA Negeri 2 Sekayu Kelas XI.IPA.1 Dimuat di Horison Kaki Langit edisi Mei 2010 Kembali ke Atas |
Berita Lainnya : |
| Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas |
Komentar :
Pengirim : Eko Putra -
[eko.ktm@gmail.com] Tanggal : 10/06/2010tolong ulasannya Jamal D. Rahman-nya diposting juga.
Terima kasih.
Kembali ke Atas
Visitors : 7370 visitors
Today : 17 users